Elephant Kind, Band Trio alternative pop asal Jakarta yang sempat menghabiskan tiga tahun berkarya di Inggris, akhirnya kembali dengan album terbaru mereka yang menjadi album ketiga, bertajuk “More Time”
Band yang beranggotakan Bam Mastro (vokal, gitar), Bayu Adisapoetra (drum), dan Kevin Septanto (bass) ini menggarap album tersebut di London. Album ini berisi dua belas lagu dengan nuansa dan eksplorasi genre yang berbeda dibandingkan dengan dua album sebelumnya, memadukan berbagai elemen musik dalam satu kesatuan tanpa meninggalkan identitas mereka.
Sebagai pendengar yang telah lama mengikuti perjalanan Elephant Kind, saya melihat album ini sebagai sebuah statement. Mereka menunjukkan bahwa identitas musikal mereka tidak hanya terikat pada satu genre saja. Sentuhan hip-hop, electronic music era 90-an, hingga rock hadir di album ini, namun tanpa menghilangkan ciri khas Elephant Kind itu sendiri.
Saat pertama kali mendengarkan album ini secara penuh, kesan yang muncul adalah bahwa ini merupakan era baru bagi Elephant Kind, namun di saat yang sama, tetap terasa familiar. Ini tetap “Elephant Kind” hanya saja dalam versi yang lebih berkembang.
Di album ini, Elephant Kind terasa lebih terbuka dan personal, seolah ingin menunjukkan kepada para pendengarnya bahwa mereka telah tumbuh dan berevolusi, baik secara musikal maupun sebagai individu.
Album dibuka dengan lagu “Emotion” yang langsung menampilkan ciri khas mereka melalui permainan synthesizer yang kuat serta progresi bass yang catchy, cukup untuk membuat kepala ikut bergoyang mengikuti ritme.
Nuansa tersebut berlanjut di lagu-lagu seperti “Plan,” “Exactly What I Needed,” “Hooked,” dan “The Ability To Listen Before You Speak.” Suara synthesizer yang bergema membawa saya seperti terhipnotis, seolah berada di tengah pesta dengan gemerlap lampu diskotik dan sentuhan psychedelic yang tetap terasa nyaman di telinga.
Kemudian hadir suara “This Feeling” dan “So Many Dayz” yang terasa seperti jeda sejenak sebuah “istirahat” sebelum energi kembali dibangun. Namun, pesta ini belum benar-benar usai. “Love Scene” menghadirkan nuansa eastern yang dibuka dengan suara bongo, lalu dilanjutkan dengan “I Love The Cold Weather but Keep The Sun Around Longer” yang membawa kita kembali ke atmosfer euforia tersebut.
“Man Enough” bukanlah penutup, melainkan awal menuju klimaks emosional yang indah. Perasaan tersebut kemudian mencapai puncaknya melalui “More Time” sebagai focus track, diikuti oleh “Strangest Thing” yang menutup album dengan nuansa yang terasa khidmat.
Pada akhirnya, Elephant Kind sebenarnya tidak membutuhkan “lebih banyak waktu” untuk membuktikan perkembangan mereka. Namun, More Time justru menjadi sebuah pernyataan bahwa pendengarlah yang mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk benar-benar menyerap dan menikmati kedalaman album ini.

