Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat kembali menjadi perhatian. Untuk membantu fasilitas kesehatan melayani warga yang terdampak kabut asap di Kalimantan, OMRON Healthcare Indonesia bersama Kitabisa menyalurkan 100 unit nebulizer ke tiga wilayah, yakni Pontianak, Kalimantan Barat; Palangkaraya, Kalimantan Tengah; dan Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Bantuan yang diumumkan pada 12 Oktober 2026 tersebut berupa perangkat OMRON NE-C810. Sebanyak 40 unit dialokasikan untuk Pontianak, sedangkan Palangkaraya dan Banjarbaru masing-masing menerima 30 unit.
Penyaluran ini ditujukan untuk mendukung fasilitas kesehatan dalam memberikan layanan terapi pernapasan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya di tengah risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla.
Paparan Kabut Asap Berisiko Mengganggu Pernapasan
Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga membawa partikel halus dan polutan yang berisiko terhadap kesehatan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan.
Anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi tersebut.
Dalam siaran persnya, OMRON mengutip data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah provinsi di Kalimantan.
Kalimantan Barat dilaporkan mencatat 165.747 kasus ISPA sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026. Sementara itu, Kalimantan Selatan melaporkan 18.423 kasus dan Kalimantan Tengah mencatat lebih dari 3.000 kasus pada periode 10–16 Agustus 2026.
Data tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan perhatian terhadap kesehatan pernapasan masyarakat di wilayah terdampak. Meski demikian, angka kasus ISPA tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh kabut asap karhutla.
Tomoaki Watanabe, Direktur OMRON Healthcare Indonesia, mengatakan paparan udara tercemar dapat memperburuk kondisi orang yang sebelumnya sudah mengalami gangguan pernapasan.
Menurutnya, dukungan terhadap fasilitas kesehatan menjadi penting agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh layanan yang sesuai.
Melalui donasi tersebut, perusahaan berupaya membantu penyediaan perangkat terapi pernapasan bagi fasilitas kesehatan di wilayah yang menghadapi risiko dampak kabut asap.
Nebulizer untuk Mendukung Terapi Inhalasi
Perangkat yang disalurkan dalam program ini adalah OMRON NE-C810, sebuah compressor nebulizer yang mengubah obat cair menjadi aerosol agar dapat dihirup melalui saluran pernapasan.
Terapi inhalasi menggunakan nebulizer dapat menjadi bagian dari penanganan sejumlah kondisi pernapasan, termasuk asma, berdasarkan indikasi dan petunjuk tenaga kesehatan. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien serta obat yang diresepkan atau dianjurkan oleh tenaga medis.
OMRON NE-C810 dilengkapi Virtual Valve Technology (V.V.T.) yang dirancang untuk membantu mengurangi pemborosan obat selama proses terapi. Perangkat ini juga dapat digunakan dengan masker atau corong mulut.
Dari sisi spesifikasi, nebulizer tersebut memiliki bobot sekitar 190 gram, ukuran partikel aerosol rata-rata 4,4 mikrometer berdasarkan parameter MMAD, serta laju nebulisasi sekitar 0,35 mililiter per menit. Tingkat kebisingannya tercatat sekitar 53 desibel.
Desainnya yang ringkas ditujukan untuk mendukung penggunaan di rumah maupun saat bepergian. Dalam konteks donasi ini, perangkat tersebut diharapkan dapat membantu fasilitas kesehatan menyediakan pilihan terapi inhalasi sesuai kebutuhan pasien.
Namun, nebulizer bukan alat untuk menyaring udara atau mencegah masuknya polutan ke dalam tubuh. Upaya mengurangi paparan asap tetap menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan masyarakat selama kualitas udara memburuk.
Bantuan Menjangkau Fasilitas Kesehatan di Tiga Wilayah
Distribusi 100 nebulizer tersebut mencakup sejumlah fasilitas kesehatan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Di Pontianak dan sekitarnya, daftar lokasi sementara mencakup Klinik PKU Muhammadiyah Kitamura, RSU YARSI Pontianak, Puskesmas Parit H. Husin II, Puskesmas Pal Sembilan, serta Puskesmas Kampung Bali.
Di Palangkaraya, bantuan ditujukan antara lain ke UPT Puskesmas Marina Permai, Puskesmas Kereng Bangkirai, Klinik Pratama Aisyiyah Palangkaraya, dan RSI PKU Muhammadiyah Palangkaraya.
Sementara itu, di Banjarbaru, daftar distribusi sementara mencakup Puskesmas Sungai Besar, fasilitas puskesmas di kawasan Loktabat Utara, Posko Polres Banjarbaru, serta Puskesmas Cempaka di Jalan Gubernur.
Daftar tersebut masih bersifat sementara dan dapat bertambah sesuai informasi dalam siaran pers OMRON. Karena itu, lokasi yang disebutkan belum tentu mencakup seluruh fasilitas penerima bantuan.
Andrew Deni Yonathan, Head of Brand Partnership Kitabisa, menyampaikan bahwa kerja sama dengan OMRON Healthcare Indonesia merupakan bentuk gotong royong untuk membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan akibat kabut asap.
Kolaborasi ini, menurutnya, tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga pada upaya menjangkau masyarakat yang membutuhkan dukungan selama menghadapi dampak karhutla.
Penanganan Karhutla Perlu Diikuti Perlindungan Kesehatan
Bantuan perangkat medis dapat mendukung kesiapan fasilitas kesehatan dalam menangani pasien dengan gangguan pernapasan. Namun, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta langkah perlindungan masyarakat dari paparan polusi.
Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat perlu memperhatikan informasi kualitas udara setempat, membatasi aktivitas di luar ruangan jika diperlukan, dan menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai. Orang yang mengalami sesak napas atau gejala berat perlu segera mencari pertolongan medis.
Melalui penyaluran 100 nebulizer ini, OMRON Healthcare Indonesia dan Kitabisa berupaya memberikan dukungan praktis kepada fasilitas kesehatan di tiga wilayah Kalimantan. Bantuan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi untuk membantu masyarakat menghadapi risiko gangguan pernapasan di tengah ancaman kabut asap karhutla.

